Kita memang tidak akan pernah bisa bersatu. Karena garis tanganku ini tetap bersilang. Aku bisa memberikan jembatan hitam sebagai penghubung keduanya. Tetapi hitam tetap
hitam. Tak akan pernah benar menjadi putih.
Selama ini, kita bersama membangun jembatan hitam yang sudah pasti akan roboh. Kita berdua tau akan kepastian itu. Dan ketika saya memperkuat diri, kau mulai mundur, menggendorkan syaraf-syaraf pusatmu, mengosongkan amunisimu, melucuti kekuatanmu.
Lambat laun, jembatan hitam yang dibangun diatas perbedaan itu roboh.
Kau limbung. Kau bilang tak sanggup, tak mampu dan teruka. Kau takut rasa sakit. Tapi disampingmu aku terus jadi pemandu sorak paling gaduh, tak mengaduh menjadi sayapmu. Kita bangun bersama lagi jembatan hitam yang lebih kuat. Dan tragedi tetaplah tragedi.
Sesalku memang diakhir. Karna dari sanalah kata sesal berawal. Selama rentannya jembatan dan jantungmu roboh, aku bermain dan berayun-ayun diatas jembatan kelabu ini. Aku memang bodoh.
Hingga,
semalam roboh Sayang.
Semalam hanyut dan menghilang. Kau bilang tak sanggup mempertahankan jembatan kita lagi. Kau tak bisa menetapkan hatimu pada jurang kuisoner ini. Aku diam.
Satu,
Dua,
Tiga,
Akhirnya.
Sang Jembatan benar-benar roboh. Kau lebih memilih pergi. Aku berdiam kaku, membeku. Kita di ujung yang beda kini. Di kedua sisi jurang yang bernama perbedaaan.
#mirta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar