20150414

Percakapan Minggu



Minggu 1

“Jadi, begini ceritanya. Tas baju dan sepatu yang kutawarkan padamu kemarin itu telah terjual pada orang lain”
“Oh ya? Semua yang kau dapat dari Dubai itu? Terjual pada siapa?”
“Iya. Adik kelas kita yang senang mengoleksi segala macam produk kulit ular. Yang mncolok itu.”
“Oh pantas. Eh tapi kenapa sih kau jual semua barang branded itu. Tidak mungkin kan lagi butuh uang?”
“Tidak. Aku hanya tidak begitu suka dengan motifnya saat ini. Terlalu mecolok, tidak sesuai dengan image ku”
“Jika tidak suka mengapa dulu dibeli?”
“Dulu, Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi kubeli saja tanpa pikir panjang. Dan setelah di tanah air akusimpan saja barang-barang itu, tak pernah aku berani memakainya”

Minggu 3

“Hei! Kau pasti tahu kalau semua barang-barang Dubai mu itu sangat trendi saat ini? Adik kelas kita itu memakainya ke berbagai lokasi. Dengan caranya memakai ‘mantan’ mu itu membuat semua orang di dalam ruangan iri”
“Iya. Aku tahu”

Minggu 4

“Rasanya Aku harus meminta barangku kembali. Baru sadar ternyata cinta pandangan pertama itu memabukkan sekarang”
“Kau gila! Tidak mungkin dia mau mejualnya kembali padamu. Dengan barang yang dulu kau lego itu ia jadi bintang besar sekarang. Kalau Aku jadi dia tidak mungkin kujual lagi apa yang membuatku jadi buah bibir”
“Apa salahnya mencoba”

Minggu 4 dan 3 hari

“Gimana, Gi?”
“Nggak berhasil”
“Hahaha. Jelas lah, apa kubilang. Tidak mungkin dia mau”
“Tidak ada yang tidak mungkin. Aku akan terus berusaha mendapatkannya kembali. Bagaimanapun caranya”

20141122

20141030

Kisah Pelawi

Selamat pagi, Pelawi. Dengan menyapanya saja sudah membuatku begidik. Padahal hanya sekadar menyapa dalam hati. Cupu ya? Culun punya mereka kata. Aku yang hidup dalam dimensi berbeda hanya mampu mengernyitkan dahi. Sebagian dari mereka yang merupakan sebagian dari darah dagingku juga menganggap apa yang aku lakukan kuno. Mereka bilang aku harusnya tidak banyak bertingkah dan duduk duam saja minum teh. Apa salahnya?
Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Saat Pelawi datang kerumah-menyebut namanya membuatku merinding, bahkan dalam usia ini-membawakan bunga dan buku karya Pram. Terkenang secara monokrom kisah cinta pada masa itu terkesan datar saja dan patuh terhadap segala aturan. Bukan seperti saat ini. Dimana cinta yang murni justru menjadi alasan untuk mematahkan segala aturan. Bagiku yang selalu ingin belia lagi dan dicintai, bukankah cinta yang murni tidak pernah bersifat penghancur? Bukankan kerelaan adalah bagian dari kemurnian itu sendiri? Mata tua ini selalu yakin bahwa pengorbanan dan kerelaan merupakan cinta yang murni. Bahagia rasanya mengenang kerelaan yang ku korbankan. Bahagia rasanya memilih rela untuk melepas Pelawi dan akhirnya dia bisa menjadi seperti sekarang ini. Andai. Jika saja aku memilih Pelawi pada saat itu, aku tidak akan bisa seperi ini. Duduk merenda di depan tv dengan suami disamping, menikmati gaji pensiun dan tersenyum pada hari-hari. Pelawi pernah berkata,"Hidup bersamaku memang keras, Ti. Namun aku akan memberimu segalanya milikku, terlebih cinta. Ikutlah denganku dan bersabarlah". Saat itu usiaku 17 tahun dan aku sudah di tunangkan oleh Bapak dengan Mas. "Maaf. Aku tidak berani melawan kehendak Bapak", itu saja yang kuucapkan dengan berlari. Sore itu pertemuan terakhirku dengan Pelawi.
---
Aku mendengarkan curahan hati cucuku yang sekarang berusia 17 tahun. Beberapa bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya setelah berpacaran hampir dua tahun. 
Cucuku bilang, ia yang memilih untuk putus dengan alasan yang susah dijelaskan katanya. Dan beberapa minggu terakhir, saat melihat mantan pacarnya telah berbahagia dengan gadis lain ia merasa terluka sekaligus menyesal."Aku tahu keputusanku benar, Oma. Aku patuh kepada Mama untuk memutuskan hubungan kita. Oma tahu kan kalau kita beda agama?" Glek. Terkutuklah batas-batas yang memisahkan cinta."Oma tahu kan yang bikin Mama nggak suka dengan Kris itu bukan hanya karena beda agama? Karena Kris itu cina dan Engkong nya punya kelab malam. Sadra tahu dan sandra rela putus demi menurut Mama, tapi melihat Kris dengan cewek lain rasanya nggak rela". Kudengarkan saja isi hati cucuku itu. Aku melihatnya sekarang seperti melihat diriku di masa lalu. Bahkan perasaan menyesal itu awet hingga saat ini. Mungkin terlalu lucu jika seorang Oma masih merasa cemburu dan tidak rela mantan kekasihnya dimiliki orang lain. Namun itulah yang terjadi. Pelawi yang dulu miskin sekarang telah menjadi pemilik penerbitan ternama di Jakarta. Ia telah berbahagia dengan Surti, teman sebangku ku di sekolah rakyat dulu sekaligus teman sekelas Pelawi. Mungkin sangat memalukan jika aku yang tua ini menginginkan tempat Surti. Bagaimana cemburu itu masih mengakar. Naif dan....jujur aku masih mencintai Pelawi. Tapi, dalam cinta yang murni menyeruak kerelaan. Tanpa kata-kata kupeluk cucuku.

20141029

Namanya Rani, Maharani

Namanya Rani, Maharani. Sudah tiga bulan ini berganti nama jadi Natasha. Sudah tiga bulan ini ia berganti kaca mata. Pandangannya bukan lagi hamparan sawah di kampung, pak tani dan bu tani giat bekerja. Bukan. Bukan itu juga. Dulu, tiga bulan lalu ia tinggal di sudut gang Boneka. Mereka menyebutnya begitu karena dulu, katanya perempuan Belanda bernama Boneka merajai gang panjang ini. Menambatkan lampu remang-remang berisi perempuan ranum sampai yang sudah busuk sekalipun. Rani lahir, tinggal dan tumbuh dalam celah sempit di salah satu bilik dalam gang (bukan desa hujau dengan sawah). Rani juga punya ibu, namun ibunya mati kena virus katanya. Beberapa hari setelah ia menghirup udara busuk gang. Rani hanya sebatas tahu, ibunya berasal dari Kediri. Dan ia sebatas tahu, namanya, Maharani diambil dari nama gua yang berada di kota kecil itu. Perihal Bapak, Rani tidak tahu. Dan dalam kamus warga gang Boneka, jangan bertanya siapa punya bapak siapa. Karena hal itu sama mustahilnya dengan apa yang paling mustahil di dunia. Entah apa. Dan kisah Rani? Setelah ditinggal ibu yang ada dan tidak ada, ia tinggal bersama tante. Cabang-cabang dari salah satu akar kaki dari ujung ranting tante Boneka, tante adalah salah satunya. Tidak ada yang tahu pasti berapa usia tante. Bedak dan gincu bergambar Grace Kelly, yang selalu tebal membuat ia terlihat lebih muda beberapa hari. Yang jelas, katanya sebelum ibu mati, ia menitipkan Rani. Entah bagaimana pun ceritanya, Rani hidup tak hidup sampai usia sebelas ini. Ya, minggu depan Rani berusia sebelas. Namun Rani berencana tidak akan ada minggu depan.
Tiga bulan lalu. Kejadiannya begitu cepat. Tante yang tua dan berbau busuk tiba-tiba mengemasi kopor-kopor. Katanya setelah sekian lama gang Boneka akan di hapus eksistensinya sebagai kutu kota. Oleh karena itu, tante berkemas. Oleh karena itu, semua orang di gang berkemas. Rani tudak berkemas. Selain tidak punya kopor untuk berkemas, ia tidak punya apa-apa untuk dikemasi. Rani hanya jongkok, memegangi perut. Ia sedang datang bulan. Tetiba, saat pagi buta dan suhu gang belum tinggi. Tante kedatangan tamu dalam bilik, dua orang pria. Pemandangan biasa bagi Rani. Biasanya jika tante kedatangan tamu, Rani akan keluar bilik dan kembali beberapa jam kemudian. Namun pagi itu lain, sebuah pagi yang tetasa lebih cepat dari biasanya. Salah satu pria membawa kopor kecil salah satunya bercakap dengan tante. Pria berkopor menyerahkan amplop sedang berisi uang pada tante (Rani mengintip sedikit, isinya lembaran uang biru). Setelah itu Rani disuruh mandi, pakaian kumal Rani berganti baju tante yang kecil. Bedak dan gincu Grace Kelly andalan tante terpoles pada wajah Rani. Baju bekas tante dan selop baru beli di pasar adalah hadiah pertama dari tante untuk Rani. Ternyata itu sekaligus hadiah perpisahan.
Sesudahnya, Rani bermobil bersama dua pria berkopor dan temannya. Sesudahnya, Rani tiba di bandara seperi terbaca di depan gedungnya.  Sesudahnya, Rani diterbangkan ke negeri Cina seperti tertera di paspornya. Tunggu, yang terbang saat itu bukan Rani, tapi Natasha. Ia sudah berganti nama. Sesudahnya, tiba-tiba saja Rani, bukan, Natasha tinggal dalam flat sempit dan pengap bersama pria bernama Nguyen. Pria obesitas dengan kacamata yang selalu bermuka seram ketika memanggil namanya. Pria yang tidak mengijinkan sekalipun Natasha keluar flat. Pria yang pada setiap malam selalu menindih Natasha dan memukulinya jika ia menangis. Pria yang selalu mengeluarkan liur berbau amis sama seperti tante dan semua oranf di gang Boneka. Ya, gang Boneka dan flat ini kurang lebih sama. Mungkin disini selain ia berganti nama, selakangan yang berdenyut, lebam di sekujut tubuh, semuanya sama. Pengap yang gatal dan busuk. Bau yang membuatmu tidak berarti. Sakit yang tahu apakah sempat untuk merasa sakit. Rani, atau Natasha lahir dalam gang busuk dan pengap sejah pandangan mata. Dan mungkin ia sudah ditakdirkan mati di tempat yang serupa. Usianya sebelas, minggu depan. Dan Rani, atau Natasha ingin sempat menghirup udara sawah dengan pemandangan pak tani dan bu tani.
Tiga hari kemudian tersiar kabar bahwa pada flat tempat tinggal Rani, atau Natasha tercium bau busuk. Bukan busuk lendir liur seperti biasanya, tapi bau anyir karena mayat pria itu dan Rani, atau Natasha. Pisau dapur tertancap di perut pria yang berlumur darah dan tanpa busana. Di dekatnya terbujur kaku jasad gadis kecil-juga tanpa busana-memar di sekujur tubuh. Darah segar mengering diantara dua kaki.
Saat itu, yang tetbujur kaku adalah Natasha. Sedangkan Rani? Sukmanya sudah terbang ke belahan dunia lain. Menuju hamparan sawah di Kediri. Pada pagi buta ia duduk di pematang sawah, menghirup udara segar dan memandang pak tani juga bu tani dari kejauhan.

Memunggungi

Seperti anak kecil. Langkahnya malu-malu, hadir di kelok jalan yang berliku. Tepat dalam sudut pandangmu. Namun kau pura-pura tidak tahu, lebih memilih merugi. Melupakan apa yang terjadi. Dalam kurun bulan lalu.

Menghilang dan tidak mencoba kembali. Klise, kenapa tercipta istilah rindu?

Punya Mimpi Agar Tidak Dengki

Halo. Selamat sore angan-angan. Kami di sini hanya sekadar mengingatkan, apa yang menjadi mimpi haruslah dipertahankan. Sudilah berkorban. Mimpi merupakan hasil orbitan angan-angan yang terkumpul dalam satu database otak kiri. Sebuah kumulatif dari mesin kreatif atas apa yang diingini. Pada akhirnya, folder itu haruslah memiliki misi. Entah cuma dibiarkan usang di pojok sel otak atau di buka di wujudkan. Dan disini, pada sebuah situs bersejarah Saya memulai kembali mimpi. Mengelompokkan angan-angan yang lalu lalang setiap hari. Mana yang akan direalisasikan, mana yang akan di simpan terlebih dahulu. Tersusun rapi dalam folder-folder dengan sticky notes berbeda. Menunggu di buka dan terjadi. Maka manakala ada saja yang nyinyir menganggap folder-folder itu terlalu berlebihan, saya pasti diam saja. Diam dan berpikir. Mengingatkan dalam hati bahwa mengumpulkan anganan menjadi mimpi yang tersusun sistematis itu tidaklah mudah. Butuh kontempelasi yang tinggi untuk membuatnya ada. Dan yang pasti membutuhkan energi ekstra untuk memwujudkan eksistensinya. Jadi, untuk apa membuang energi percuma untuk prasangka dengki? Saya rasa saya tidak akan pernah peduli. Pada manusia yang mengomentari mimpi, tapi bukan miliknya sendiri. Sudah, pulanglah dan tidur. Makan yang banyak dan minum jus (saran saya, jus wortel). Koleksilah energi untuk mengelompokkan angan-angan. Supaya jadi itu mimpi punya sendiri.

Agar tidak dengki.

20140322

Swell Window



Swell Window
- Zee Avi

Like a swell window/ I will wait for you,/ We'll ride the moment 'til I catch you again./ 'Til I catch you again./ Ooh// I met with a young man/ Who has an ocean romance/ And he calls it the way of life./ He tells me how he feels when he's alone/ With the raging sound of calm./ The raging sound of calm.// Fully untainted sacred place...// Like a swell window/ I will wait for you,/ We'll ride the moment 'til I catch you again./ 'Til I catch you again.
//
Like a swell window
I will wait for you,
We'll ride the moment 'til I catch you again.
'Til I catch you again.
Ooh
//
Little doses count/ This time will come around./ We're all riding the same waves./ We're all riding the same waves.// Soon we'll all be face to face.// Like a swell window/ I will wait for you,/ We'll ride the moment 'til I catch you again./ 'Til I catch you again.// Like a swell window/ I will wait for you,/ We'll ride the moment 'til I catch you again./ 'Til I catch you again./ Ooh///