Aku ingin tak naik pitam pada yang hitam, tapi tak juga mengalah pada yang bersalah.
Aku ingin tak cemburu pada yang diburu, tak juga buta pada batu permata.
Aku tak ingin murka pada yang diterka, tak pula jadi hakim pada yang dzalim.
Aku ingin gembira meski sengsara, aku ingin jera pada lara.
Mereka yang melepas pilihan besar (yang dikonstruksikan umum),
mungkin melepasnya
hanya untuk satu alasan sederhana: menjadi bahagia.
Bahagiaku bukan bahagiamu. Sesederhana itu, yang tak kunjung kau sadari jua.
Tapi bagaimana jika bahagiamu adalah bahagiaku?
Kau pikir, lakumu, satu, dua, atau tiga kali, hingga jadi kodratmu. Mungkin ia benar, consuetudo altera natura est.
Kau bilang kau datang untuk bahagia. Kau bilang kau datang untuk sebuah makna. Hanya kau yang paham, akupun tidak.
Kadang kau menahan untuk apa yang kau sebut dengan kesempurnaan. Kau
diam sejenak, hingga kau tak sadari renta pun tiba. Kau yang paham.
Kau tunggu momentum, meski semuanya telah berdentum, dan dipangkuanmu
ada sekuntum. Untuk kesempurnaan katamu. Kau yang paham, akupun tidak.
Dalam diammu, aku berpikir aku telah kehilangan sedetik, atau mungkin sehari, atau selamanya? Diem perdidi.
Aku mencintai sastra bukan karena ia memuaskan hasratku akan kata. Hanya karena ia membuatku menjadi aku, dengan sederhananya.
Entah Aku yg mana. Yang tak sempurna dan lupa diri, hanyut dalam
lakon-lakon dan topeng berbagai rupa, atau yg mana. Aku menjelma jadi
Aku.
Kuakhiri lakon ini, lalu kutatap cermin, kuhadapi musuhku yang baru. Di depanku. Entah lakon apa lagi. Aku.
Dalam kicauan di dunia maya, 22 Agustus