Tampilkan postingan dengan label sulaman kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulaman kata. Tampilkan semua postingan

20150414

Percakapan Minggu



Minggu 1

“Jadi, begini ceritanya. Tas baju dan sepatu yang kutawarkan padamu kemarin itu telah terjual pada orang lain”
“Oh ya? Semua yang kau dapat dari Dubai itu? Terjual pada siapa?”
“Iya. Adik kelas kita yang senang mengoleksi segala macam produk kulit ular. Yang mncolok itu.”
“Oh pantas. Eh tapi kenapa sih kau jual semua barang branded itu. Tidak mungkin kan lagi butuh uang?”
“Tidak. Aku hanya tidak begitu suka dengan motifnya saat ini. Terlalu mecolok, tidak sesuai dengan image ku”
“Jika tidak suka mengapa dulu dibeli?”
“Dulu, Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi kubeli saja tanpa pikir panjang. Dan setelah di tanah air akusimpan saja barang-barang itu, tak pernah aku berani memakainya”

Minggu 3

“Hei! Kau pasti tahu kalau semua barang-barang Dubai mu itu sangat trendi saat ini? Adik kelas kita itu memakainya ke berbagai lokasi. Dengan caranya memakai ‘mantan’ mu itu membuat semua orang di dalam ruangan iri”
“Iya. Aku tahu”

Minggu 4

“Rasanya Aku harus meminta barangku kembali. Baru sadar ternyata cinta pandangan pertama itu memabukkan sekarang”
“Kau gila! Tidak mungkin dia mau mejualnya kembali padamu. Dengan barang yang dulu kau lego itu ia jadi bintang besar sekarang. Kalau Aku jadi dia tidak mungkin kujual lagi apa yang membuatku jadi buah bibir”
“Apa salahnya mencoba”

Minggu 4 dan 3 hari

“Gimana, Gi?”
“Nggak berhasil”
“Hahaha. Jelas lah, apa kubilang. Tidak mungkin dia mau”
“Tidak ada yang tidak mungkin. Aku akan terus berusaha mendapatkannya kembali. Bagaimanapun caranya”

20141030

Kisah Pelawi

Selamat pagi, Pelawi. Dengan menyapanya saja sudah membuatku begidik. Padahal hanya sekadar menyapa dalam hati. Cupu ya? Culun punya mereka kata. Aku yang hidup dalam dimensi berbeda hanya mampu mengernyitkan dahi. Sebagian dari mereka yang merupakan sebagian dari darah dagingku juga menganggap apa yang aku lakukan kuno. Mereka bilang aku harusnya tidak banyak bertingkah dan duduk duam saja minum teh. Apa salahnya?
Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Saat Pelawi datang kerumah-menyebut namanya membuatku merinding, bahkan dalam usia ini-membawakan bunga dan buku karya Pram. Terkenang secara monokrom kisah cinta pada masa itu terkesan datar saja dan patuh terhadap segala aturan. Bukan seperti saat ini. Dimana cinta yang murni justru menjadi alasan untuk mematahkan segala aturan. Bagiku yang selalu ingin belia lagi dan dicintai, bukankah cinta yang murni tidak pernah bersifat penghancur? Bukankan kerelaan adalah bagian dari kemurnian itu sendiri? Mata tua ini selalu yakin bahwa pengorbanan dan kerelaan merupakan cinta yang murni. Bahagia rasanya mengenang kerelaan yang ku korbankan. Bahagia rasanya memilih rela untuk melepas Pelawi dan akhirnya dia bisa menjadi seperti sekarang ini. Andai. Jika saja aku memilih Pelawi pada saat itu, aku tidak akan bisa seperi ini. Duduk merenda di depan tv dengan suami disamping, menikmati gaji pensiun dan tersenyum pada hari-hari. Pelawi pernah berkata,"Hidup bersamaku memang keras, Ti. Namun aku akan memberimu segalanya milikku, terlebih cinta. Ikutlah denganku dan bersabarlah". Saat itu usiaku 17 tahun dan aku sudah di tunangkan oleh Bapak dengan Mas. "Maaf. Aku tidak berani melawan kehendak Bapak", itu saja yang kuucapkan dengan berlari. Sore itu pertemuan terakhirku dengan Pelawi.
---
Aku mendengarkan curahan hati cucuku yang sekarang berusia 17 tahun. Beberapa bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya setelah berpacaran hampir dua tahun. 
Cucuku bilang, ia yang memilih untuk putus dengan alasan yang susah dijelaskan katanya. Dan beberapa minggu terakhir, saat melihat mantan pacarnya telah berbahagia dengan gadis lain ia merasa terluka sekaligus menyesal."Aku tahu keputusanku benar, Oma. Aku patuh kepada Mama untuk memutuskan hubungan kita. Oma tahu kan kalau kita beda agama?" Glek. Terkutuklah batas-batas yang memisahkan cinta."Oma tahu kan yang bikin Mama nggak suka dengan Kris itu bukan hanya karena beda agama? Karena Kris itu cina dan Engkong nya punya kelab malam. Sadra tahu dan sandra rela putus demi menurut Mama, tapi melihat Kris dengan cewek lain rasanya nggak rela". Kudengarkan saja isi hati cucuku itu. Aku melihatnya sekarang seperti melihat diriku di masa lalu. Bahkan perasaan menyesal itu awet hingga saat ini. Mungkin terlalu lucu jika seorang Oma masih merasa cemburu dan tidak rela mantan kekasihnya dimiliki orang lain. Namun itulah yang terjadi. Pelawi yang dulu miskin sekarang telah menjadi pemilik penerbitan ternama di Jakarta. Ia telah berbahagia dengan Surti, teman sebangku ku di sekolah rakyat dulu sekaligus teman sekelas Pelawi. Mungkin sangat memalukan jika aku yang tua ini menginginkan tempat Surti. Bagaimana cemburu itu masih mengakar. Naif dan....jujur aku masih mencintai Pelawi. Tapi, dalam cinta yang murni menyeruak kerelaan. Tanpa kata-kata kupeluk cucuku.

20141029

Namanya Rani, Maharani

Namanya Rani, Maharani. Sudah tiga bulan ini berganti nama jadi Natasha. Sudah tiga bulan ini ia berganti kaca mata. Pandangannya bukan lagi hamparan sawah di kampung, pak tani dan bu tani giat bekerja. Bukan. Bukan itu juga. Dulu, tiga bulan lalu ia tinggal di sudut gang Boneka. Mereka menyebutnya begitu karena dulu, katanya perempuan Belanda bernama Boneka merajai gang panjang ini. Menambatkan lampu remang-remang berisi perempuan ranum sampai yang sudah busuk sekalipun. Rani lahir, tinggal dan tumbuh dalam celah sempit di salah satu bilik dalam gang (bukan desa hujau dengan sawah). Rani juga punya ibu, namun ibunya mati kena virus katanya. Beberapa hari setelah ia menghirup udara busuk gang. Rani hanya sebatas tahu, ibunya berasal dari Kediri. Dan ia sebatas tahu, namanya, Maharani diambil dari nama gua yang berada di kota kecil itu. Perihal Bapak, Rani tidak tahu. Dan dalam kamus warga gang Boneka, jangan bertanya siapa punya bapak siapa. Karena hal itu sama mustahilnya dengan apa yang paling mustahil di dunia. Entah apa. Dan kisah Rani? Setelah ditinggal ibu yang ada dan tidak ada, ia tinggal bersama tante. Cabang-cabang dari salah satu akar kaki dari ujung ranting tante Boneka, tante adalah salah satunya. Tidak ada yang tahu pasti berapa usia tante. Bedak dan gincu bergambar Grace Kelly, yang selalu tebal membuat ia terlihat lebih muda beberapa hari. Yang jelas, katanya sebelum ibu mati, ia menitipkan Rani. Entah bagaimana pun ceritanya, Rani hidup tak hidup sampai usia sebelas ini. Ya, minggu depan Rani berusia sebelas. Namun Rani berencana tidak akan ada minggu depan.
Tiga bulan lalu. Kejadiannya begitu cepat. Tante yang tua dan berbau busuk tiba-tiba mengemasi kopor-kopor. Katanya setelah sekian lama gang Boneka akan di hapus eksistensinya sebagai kutu kota. Oleh karena itu, tante berkemas. Oleh karena itu, semua orang di gang berkemas. Rani tudak berkemas. Selain tidak punya kopor untuk berkemas, ia tidak punya apa-apa untuk dikemasi. Rani hanya jongkok, memegangi perut. Ia sedang datang bulan. Tetiba, saat pagi buta dan suhu gang belum tinggi. Tante kedatangan tamu dalam bilik, dua orang pria. Pemandangan biasa bagi Rani. Biasanya jika tante kedatangan tamu, Rani akan keluar bilik dan kembali beberapa jam kemudian. Namun pagi itu lain, sebuah pagi yang tetasa lebih cepat dari biasanya. Salah satu pria membawa kopor kecil salah satunya bercakap dengan tante. Pria berkopor menyerahkan amplop sedang berisi uang pada tante (Rani mengintip sedikit, isinya lembaran uang biru). Setelah itu Rani disuruh mandi, pakaian kumal Rani berganti baju tante yang kecil. Bedak dan gincu Grace Kelly andalan tante terpoles pada wajah Rani. Baju bekas tante dan selop baru beli di pasar adalah hadiah pertama dari tante untuk Rani. Ternyata itu sekaligus hadiah perpisahan.
Sesudahnya, Rani bermobil bersama dua pria berkopor dan temannya. Sesudahnya, Rani tiba di bandara seperi terbaca di depan gedungnya.  Sesudahnya, Rani diterbangkan ke negeri Cina seperti tertera di paspornya. Tunggu, yang terbang saat itu bukan Rani, tapi Natasha. Ia sudah berganti nama. Sesudahnya, tiba-tiba saja Rani, bukan, Natasha tinggal dalam flat sempit dan pengap bersama pria bernama Nguyen. Pria obesitas dengan kacamata yang selalu bermuka seram ketika memanggil namanya. Pria yang tidak mengijinkan sekalipun Natasha keluar flat. Pria yang pada setiap malam selalu menindih Natasha dan memukulinya jika ia menangis. Pria yang selalu mengeluarkan liur berbau amis sama seperti tante dan semua oranf di gang Boneka. Ya, gang Boneka dan flat ini kurang lebih sama. Mungkin disini selain ia berganti nama, selakangan yang berdenyut, lebam di sekujut tubuh, semuanya sama. Pengap yang gatal dan busuk. Bau yang membuatmu tidak berarti. Sakit yang tahu apakah sempat untuk merasa sakit. Rani, atau Natasha lahir dalam gang busuk dan pengap sejah pandangan mata. Dan mungkin ia sudah ditakdirkan mati di tempat yang serupa. Usianya sebelas, minggu depan. Dan Rani, atau Natasha ingin sempat menghirup udara sawah dengan pemandangan pak tani dan bu tani.
Tiga hari kemudian tersiar kabar bahwa pada flat tempat tinggal Rani, atau Natasha tercium bau busuk. Bukan busuk lendir liur seperti biasanya, tapi bau anyir karena mayat pria itu dan Rani, atau Natasha. Pisau dapur tertancap di perut pria yang berlumur darah dan tanpa busana. Di dekatnya terbujur kaku jasad gadis kecil-juga tanpa busana-memar di sekujur tubuh. Darah segar mengering diantara dua kaki.
Saat itu, yang tetbujur kaku adalah Natasha. Sedangkan Rani? Sukmanya sudah terbang ke belahan dunia lain. Menuju hamparan sawah di Kediri. Pada pagi buta ia duduk di pematang sawah, menghirup udara segar dan memandang pak tani juga bu tani dari kejauhan.

20140321

Tentang Cicak, Teman Saya

Dengan segala probabilitas, Saya adalah manusia penuh gejolak. Yang dibuat sendiri atau yang tidak sengaja mampir. Namun semua itu pastilah kuasa Tuhan Hyang Maha. Namun seberapa kali masalah datang dan mengeluh meradang, selama tanpa masalah pun Saya rasa ada yang kurang. Seperti saat ini, ketika Saya memulai permainan langka. Dimana yang memainkan biasanya terjerat dan sulit terlepas ikat. Anehnya sampai saat ini permainan saya lancar-lancar saja. Buktinya arus itu semakin kuat dari awal saya memulai permainan. Apa 'masalah' sudah paham dengan tabiat saya? Jadi katika Saya cari-cari masalah dia sembunyi terus karena lelah? Saya tidak punya teman. Tidak mau berteman dengan mereka yang meragukan kekuatan pemecahan masalah Saya. Saya tidak mau berteman terhadap mereka yang pasrah akan keadaan. Saya memilih turun ke jalan dan berteriak perihal kebenaran seperti orang gila daripada duduk dirumah berbicara sekenanya, pasrah. Bukan. Saya bukan jumawa. Saya hanya berusaha. Setidaknya sudah mencoba.

Saat ini mungkin hanya ada dua jenis manusia yang kau ketahui. Penggerak atau yang digerakkan, yang diikuti atau yang mengikuti. Tapi ada pilihan ketiga menurut saya. Tipe yang spesiesnya sangat langka. Pribadi bebas. Pribadi bebas yang hanya mampir di planet ini, dunia ini. Pribadi bebas yang tidak merasa menjadi warga negara bumi. Pribadi bebas paham akan aturan manusia yang sangat kurang manusia. Pribadi bebas yang jauh dari topeng, topeng, topeng (Tidakkah kau hendak muntah ketika mendengar 'topeng'?). Rubah yang bisa saja berbulu domba (karena ia anak saudagar kaya). Tapi jaman sekarang cicak bisa saja gorila. Yang menempel di dinding, berusaha tak ada, berusaha suci, tanpa masalah tapi setiap inci kau mendengar peristaltik di lehernya setiap mili itu mengalir maka nama baikmu akan berakhir. Musuh dalam selimut. Cicak dalam selimut. 

Dalam masalah mu sebenarnya ia terlarut. 
Dalam sampingmu ia mengikut. 
Dalam padamu ia menghasut. (Aku terbunuh)

Mari Saya ceritakan mengenai teman Saya, Cicak.
Mengenaai ia, cicak tau (dulu )saya diam dengan masalah. Saya kenal Cicak sebagai kawan dekat dan saya tak masalah karena ia pun tak masalah. Dulu saya diam, masalah mendekati Saya diam. Sejak dengan Cicak (dan masalah yang datang), ia suruh saya melahap masalah itu seperti nyamuk. hap, hap, hap habiskan, "Cari masala lagi, dan selesaikan, disitulah pengalaman dan perutmu akan kenyang" Saya menurut saja. ternyata enak juga mencari, menemukan, membuat, menyelesaikan, melahap tanpa memuntahkan masalah (tapi ingat wajahnya sekarang saya ingin muntah)

Kepada Cicak Saya belajar banyak. Bagaimana cara menghadapi nyamuk -eh, masalah- besar dan menghabiskannya sendirian. Kepada Saya Cicak berkata, Saya hebat dan dia berteman dengan saya. Saya kenal Cicak sebagai kawan dekat dan Saya tak masalah karena ia pun tak masalah. Tapi yang tidak saya tahu ternyata Cicak berliur, sembari berliur ia bertelur. Ketika bertelur Saya baru sadar tubuhnya transparan. Jelas terlihat jantung yang pekat, busuk. Kaki tangannya berlubang bayak meempeli tubuhmu menyedot bagai parasit. Baru Saya tahu telur yang ia rendam selama ini dalam rahimnya membuat Saya terpeleset. Telur itu telur Saya. Telur yang terbuahi oleh Saya. Saya Tokek (Saya merasa jadi Tokek) dan Saya menidurinya dibalik selimut. Cicak dalam selimut. Saya Tokek. Masalah datang kepada aya dan Saya belum menyelesaikannnya.


Selamat Datang Kembali


 
 Barangkali sedah terlalu laa saya meninggalkan rumah ini. dan sekarang, hanya ucapkan..Selamat datang kembali

20130314

SPESIAL UNTUK SEORANG PEMUDA

Ini sajak yang intinya kalau kamu menjadi semakin abu-abu dalam keterbatasanku

Dia selalu ada saat kamu menguar dari jagadku
Dia selau hadir saat aku butuh sosokmu yang abu-abu
Kenapa begitu?
Tuan, yang aku inginkan kamu.

Didekatnya aku merasa dingin dan membeku, dipeluk es terdingin yang bisa membunuhku.
Didekatmu rasa hangat menyelimutiku, mengiringiku dengan tawa nyata akibat cinta yang menggebu.
Kau, membuatku lupa akan lukaku yang lebih dari seribu. Menceritkan dongeng terindah agar duniaku hanya kamu.
Dia, menjagaku agar tetap ingat akan luka sial itu. Sekaligus menguatkannku dalam dunia tanpa tawa yang sesungguhnya.
Kau, sampulmu bodoh berbalik deengan isi otakmu itu.
Dia, sempurna membuatku tertipu dengan isi otaknya.
Kau bisa minta konklusi.....,
Bahwa kau, arum manis paling enak sedunia! Berada dalam toples kaca yang tak pernah mungkin aku bisa membukanya.
Kamu tau? Disaat itu hanya dia yang mampu, menjagaku ada dalam ketiadaan. Sedangkan kamu, aku membutuhkamu dan kau? Bergeming pun tidak.

Sebut saja kau pohon besar dengan segala kenyamanan didunia, bergelimang segalanya yang kupuja.
Namun saat ditiup angin, daunmu pun tak berayun
Itulah kau tanpa peka

Sedang dia?
Aku mengganggapnya tak ada! Tapi dia selalu ada.
Ketersediaannya untukku. Bahkan tanpa aku meminta. Sadarkah kamu bahwa kau kuanggap istimewa?
Tergantung jika kau menyadarinya .

Sekedar bicara saja, jangan salahkan aku jika kembali mencintainya.

Maafkan Tuan. Aku mengecewakan mu


Matamu

 


Matamu.
Melihat apa yang terkira sudi seperti kalimat di atas kepalaku
Menelisik atau bukan, yang gila rasanya menghantui. Bukan drama cinta, tapi telenovela
Mengintimidasi.
Padahal cuma Saya yang boleh memandang dengan cara itu
Beraninya kamu menginjak orang yang biasa menginjak
Beraninya kamu menendang tukang tendang
Beraninya kamu memaksa tukang paksa
Beraninya kamu padaku.
Matamu.

Ya, sebenarnya cuma matamu.

Ada apa ya disana?
Mungkin jutaan pisau berkilat, menghunus 
Jadi bisa setajam itu
Ah.
 

20121101

Beri Aku Satu Kata: Bayang


Rona itu temaram dalam lampu hijaun jin parsi
Matahari mencoba membunuh ilham yang datang dari alam rindu
Dan ketika suatu hari kedatangan kamu, 
Raja di raja malam akan mengamuk
Musnahkan cahaya bulan dan berlari menyembunyikan aku

Mengapa bulan dipenuhi titik?
Keemasan dalam segala gurauan
Kemudian kamu terbang kembali dalam mensin waktu. Jaman ini
Ketika matahari terbit sesuai dongeng masa mudaku
Mengapa pengecut?
Tertawalah sesukamu.
Cahaya bulan perlahan hilang. Ya, yang tadi hilang hanya bayangan

Hilang berupa bayang-bayang.
Sekarang? benar-benar hilang
bayang,
bayang,
bayang,

Hilang



Hai Hilang

20121028

Pertanyaan Teh Paradoks Inti


















Ambisi

Hanya sampai disitu?

Dimana saja tidak masalah tapi bagaimana jika semua itu mimpimu?
Menenggelamkan mimpi tak semudah yang kau tau. Ah kau tak tau. Kau tak punya mimpi.
Mimpi, heroin merekku sendiri. Aku bisa buta bila tak bermimpi.

Sabar kata mati

Berputar menjadi yang bukan kita untuk kembali menjadi diri kita lagi. Mengapa harus berputar. Dan, dimana celah?

Klise

Tiga itu malapetaka, angka delapan yang terbuka.
Tiga penuh rahasia. Dimana kau tak pernah bisa menerka, apa lagi? Aku bicara akan mimpi

Hari ini hari apa? Entah itu 3 atau 13 kejutan besar setiap proklamasi diperingati. Jumat.
Hari itu, pada 23 bulan ini aku menanti rahasia besar.

Aku tak menantang Tuan
Aku hanya menanti Walau aku tak suka kejutan.

Hei Aku lupa. Ada penutup bernama manis akhir bulan ini/ Tiga puluh

Kau tau atom. Punya inti dengan jutaan molekul penyusun. Elektron saling mengikat, merapat dan satu.
Semuanya berpengaruh? Tidak. Ada kasta didalamnya. Lihat semut. Jika kau bisa menjadi ratu mengapa harus memilih prajurit? Jika kau bisa menjadi prajurit mengapa harus pekerja? Entah. Aku paham kisah ini tapi..

Aku bisa mengemis. Aku bisa mempertanyakan. Aku bisa menghancurkan semua sekalipun aku akan binasa!
Tapi, tapi, tapi.. Argh!

Mengapa?

Mimpi buruk itu tiba. Tepat tanggal tiga. Dimana semua asa, hilang sirna. 
Maju? Melanjutkan? Mundur? 
Untuk apa kau bersusah payah Kamu hanya elektron. Kamu bikan inti. Keberadaanmu mudah diganti. Kamu bisa mati kapan saja! Inti itu abadi. Kamu kacung!

Kamu hanya pekerja, hidup mati hal biasa.
Bagaimana lagi mengungkap kata-kata? 

Aku hanya kecewa


Kuteguk teh terakhir yang menggurui. Habis sudah.

Pekat


20121027

Tentang Hiatus




Hiatus.


Artinya apa saya tidak tau.
Terlintas begitu saja. Dan, mejik! kakek serba tahu abad 21 tiba-tiba menyodorkan ini pada saya :

Hiatus berasal dari bahasa Latin, yakni hiatus, artinya sebenarnya adalah gap atau jika diartikan dalam Bahasa Indonesia setara dengan celah, atau renggangan. Namun jika dilihat arti gap dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) terbitan Balai Pustaka tahun 1989 maka gap diartikan dengan degap, jantung berdebar, atau bunyi meja yang ditepuk.

Mungkin ini. Rasa yang nyata dan kasat mata. Ada tanpa bisa dijelaskan. Renggang, celah. Antara siapa (you-know-who) dan saya. 
Kami jelas terhubung. Kami sadar akan hal itu. Tapi ada jarak, saya sadar. Entah untuknya.

Dengarkan lagu ini :  

Julie Deply - An Ocean Apart

Sounds good. But wait, Ocean Apart? 
Mereka tidak benar-benar berpisah, I guess 
Ombak boleh pecah untuk bergulung lagi.
Air laut boleh berganti nama jadi danau, sungai bahkan got.
Tapi toh mereka tetap satu. Setidaknya, kesatuan yang terpisah secara visual saja.

Well, sepanjang itu aku mencoba menggambar apa yang di sebut "kita" hubungan "kita" yang persisnya disebut ikatan.

Lagi-lagi, Hiatus.

Dapat dairtikan menjadi 'degap, jantung berdebar'
Begitu kita saling terkoneksi. Ha-ha
Mungkin saya terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin teori renggang yang susah payah dikukuhkan, pecah begitu saja oleh teori kedua? lalu mana yang nyata?







Kongruensi

Jarak yang sebenarnya terasa dibuat manusia malu-malu
Suatu saat dia akan mengerti apa itu dihargai
Aku ingin menemuinya lain waktu, 
mengajaknya bicara akan detik berharga yang tak kumiliki 
Menyadari akan degup serupa lem. Lengket. Penghubung renggang Aku dan Kamu. Egois Kita




Yah, itu Hiatus versiku. 
M

20120524

Hujan Januari

Hujan di bulan Januari itu aku.
Bersikeras menjatuhi kamu yang kini menanti cahaya.

Lalu aku marah. Menyusup di gumpalan awan, membuatnya hitam.
Kemudian menciptakan kilatan-kilatan serta halilintar, membanjiri kamu dengan tangisan.

Hujan di bulan Januari itu aku.
Tak diharapkan lagi datang, tapi tetap tegas menantang.

Aku terlalu takut kamu beyemu sinar, yang akan membawamu pada panas berkepanjangan.
Dan aku menggelegar, sampai khatulistiwa di nadimu terbakar.

Hujan di bulan Januari itu aku, yang merajuk karena cemburu.
Rasa yang turun rintik-rintik didadaku, menjelma deras saat kamu tetap membatu.

Jika kau lihat hujan deras diluar sana, itu adalah rinduku yang tak kau tengok kala gerimis..

Human (One) Ksatria

Melihatmu pergi dengan mudahnya meninggalkanku, 

Kamu memaafkanku tapi Aku tau kau tak akan pernah lupa

akan kesalahan fatal yang terlah terjadi. Aku.

Membuat cerita kosong berisi bualan malu, dahulu. Sudah lama Sayang

tapi rasa itu membeku

Hina. Sampai saat ini. Hina

Aku ingin kamu memaafkanku dengan sungguh-sungguhnya maaf

Aku ingin kamu kembali pada imaji kita dulu, 

Aku mohon karna kamu pujangga pertama dalm hidupku

Dan aku inginkan kamu untuk yaang terakhir.

Aku mohon maafkan aku, kembali padaku

Aku Sakit parah, jantungku terluka


Tanyakan padaku rasa sakit itu, kembalilah padaku seperti tiga tahun lalu Ksatria

Cahaya menunggumu,

20120522

Aku Selalu Suka Hujan

 Ah hujan. Aku selalu suka hujan. Hujan itu waktu yang tepat untuk melamun. Melamunkan bulir-bulir kenangan yang turun bersama air dari langit.
Hingga akhirnya gravitasi membuatnya menghujam tanah, bentuknya seperti jarum. Begitu terasa menusuk dan sakit walau sedikit. Membuat terhenyak walau sejenak.
Seperti biasa. Aku melamun duduk di sofa, menatap kaca jendela, tepat didepannya, menyaksikan air turun menyusuri. Bagai melihat sebuah film, film berjudul namamu. Semua hanya wajahmu yang terproyeksikan.
Hingga akhirnya hujan reda, yang tersisa hanyalah hujan yang baru. Dimataku,  karena rindu.
Bagaimana mungkin hadir lagi pelangi dihati yang basah ini? Sedangkan kamu, sang mentari, pergi dibayangi awan kelabu penutup mimpi. Kembalilah.... Buat mataku berwarna lagi.

20120424

Tentang Jurang dan Jembatan Hitam



Kita memang tidak akan pernah bisa bersatu. Karena garis tanganku ini tetap bersilang. Aku bisa memberikan jembatan hitam sebagai penghubung keduanya. Tetapi hitam tetap 
hitam. Tak akan pernah benar menjadi putih.

Selama ini, kita bersama membangun jembatan hitam yang sudah pasti akan roboh. Kita berdua tau akan kepastian itu. Dan ketika saya memperkuat diri, kau mulai mundur, menggendorkan syaraf-syaraf pusatmu, mengosongkan amunisimu, melucuti kekuatanmu.

Lambat laun, jembatan hitam yang dibangun diatas perbedaan itu roboh.

Kau limbung. Kau bilang tak sanggup, tak mampu dan teruka. Kau takut rasa sakit. Tapi disampingmu aku terus jadi pemandu sorak paling gaduh, tak mengaduh menjadi sayapmu. Kita bangun bersama lagi jembatan hitam yang lebih kuat. Dan tragedi tetaplah tragedi.

Sesalku memang diakhir. Karna dari sanalah kata sesal berawal. Selama rentannya jembatan dan jantungmu roboh, aku bermain dan berayun-ayun diatas jembatan kelabu ini. Aku memang bodoh.

Hingga,
semalam roboh Sayang.
Semalam hanyut dan menghilang. Kau bilang tak sanggup mempertahankan jembatan kita lagi. Kau tak bisa menetapkan hatimu pada jurang kuisoner ini. Aku diam.

Satu,
Dua,
Tiga,

Akhirnya. 
Sang Jembatan benar-benar roboh. Kau lebih memilih pergi. Aku berdiam kaku, membeku. Kita di ujung yang beda kini. Di kedua sisi jurang yang bernama perbedaaan.



#mirta

20120317

Vila Kokoh di Era Senja

vila kokoh di era senja


ini tentang vila itu yang berdiri kokoh di pojokan lereng itu

bangunan besar gaya victoria yang bagus, menurutku

jatuhnya puing

jadi reliku dalam sulaman jantung yang bergema

jatuh dalam bayangan angin tak berpaling pada air jernih didalam, hatiku



vila kokoh itu terus mengundangku masuk

semakin kedalam semakin betah, siapa yang ingin pulang?

tetap pada lingkaran itu dan tak pernah kembali dalam jalan nyata



vila kokoh itu mengingatkan aku pula,

pada hari senja, pada hari senja ketika raga ini tak sanggup lagi berkelit, berlari dari jalan nyata

cahayanya bagus, bagus sekali

menyilaukan segalanya, mengingatkan aku tentang segalanya, yang nyata.



vila kokoh di era senja,

tak akan sekokoh dulu semasa muda


Mirta dengan cinta,

20120304

Tentang Hujan awal Maret

cara marah yang baik ketika masalah datang dari dalam rumah : diam kemudian lari lalu tuluskan datu kata yang paling mewakili perasaanmu saat itu dengan font paling besar sesuai jangkauan tanganmu selanjutnya robeklah kertas tsbt mjdi beberapa bagian yang tidak akan pernah kau temui lagi. (https://www.facebook.com/MNMirta)




Hujan ini mewakili seluruh imajiku


semua rasa dalam rongga tubuh menyelimutiku seakan tak ingin cintanya terluka. 

Hujan selalu bersahabat denganku


Ingin aku kembali melebur bersamanya, seperti dulu pada mimpiku. 

Aku tak ingin dia terluka, begitu kita saling menjaga. 

Karena dia kembaranku, mewakili seluruh imajiku yang rontok. Mewakili hancurnya hatiku. Menempatkan 

diri sebagai airmataku. Sama sekali iya


Sebaiknya, aku berduka. Ikut hancur menjadi bagian-begian kecil. 

Namun hati ini telah mengeras, sangat rapuh karna tlah terkuras dahaga. Kau tau? dahaga akan pembalasan 

dendam yang membara.


Aku tau, aku sangat hancur. Tapi aku belum mati, tidak untuk hari ini.



Jombang, 05 Maret 2012
Waktu  : 13.04 WIB