Wajah itu! Wajah itu! Wajah itu! Aku pernah melihatnya. Pada suatu slide hidupku yang tak pernah kuingat. Hanya..
Kereta biduan dalam buaian dan tidak
Diantaranya kalbu dalam sejuta kalbu. Penuh intrik menarik
di setiap bumbu. Keabadian, keagungan, tidak pernah ada. Lengser itu, pasti.
Suatu saat dan tak kan tersisa rasa.
Saat biduan dalam kereta mengaum. Aum.
Auman kencang redupkan bintang, bintang bintang keabadian
keagungan. Merona dan.., temaram. Redup.
Saat dipuncak itu, auman mengaum tak hiraukan bising
kehidupan.
Yang jatuh sekejap dalam pelukan, biduan.
Ya.
Ya.
Ya. Saat dalam kereta, pastikanlah hatimu jatuh dalam galau.
Gelagah yang diseduh dengan aroma teh. Sebungkus kata rahasia kaum adam,
tolonglah getarkan hatinya. Haha.. Tidak!
Bertahanlah kamu biduan! Lena terlena kau! Dalam rona
temaram yang tak asing bagimu! Berulang lalu lalang dia biduan! Dan kau tetap
tertipu!
Hahaha. Kau bodoh.
Dirimu hilang, hampa sekarang. Apa? Balutan sujud
permohonan?
Maaf yang menggantung dan mengganggu hari –hari penuh haru
sedalam kalbu dalam rindu.
Apa kataku? Apa sekarang pula katamu? Memohon tak tentu.
Putuskah urat malumu? Atau sejak lama memang tiada? Bahkan tempatnya pun tak
ada? Yah, ituu palsu. Ucapan..mu
Kamu jahat! Aku menbencimu
dalam segelas rinduku. Taukah ?
Robeklah jantungku pecahkanlah isinya! cari dan temukan
kepingan, kepingan, kepingan deja vu-ku
kepadamu.
Jombang, 18 07 2011

NICE ALL :)
BalasHapus