Dengan segala probabilitas, Saya adalah manusia penuh gejolak. Yang dibuat sendiri atau yang tidak sengaja mampir. Namun semua itu pastilah kuasa Tuhan Hyang Maha. Namun seberapa kali masalah datang dan mengeluh meradang, selama tanpa masalah pun Saya rasa ada yang kurang. Seperti saat ini, ketika Saya memulai permainan langka. Dimana yang memainkan biasanya terjerat dan sulit terlepas ikat. Anehnya sampai saat ini permainan saya lancar-lancar saja. Buktinya arus itu semakin kuat dari awal saya memulai permainan. Apa 'masalah' sudah paham dengan tabiat saya? Jadi katika Saya cari-cari masalah dia sembunyi terus karena lelah? Saya tidak punya teman. Tidak mau berteman dengan mereka yang meragukan kekuatan pemecahan masalah Saya. Saya tidak mau berteman terhadap mereka yang pasrah akan keadaan. Saya memilih turun ke jalan dan berteriak perihal kebenaran seperti orang gila daripada duduk dirumah berbicara sekenanya, pasrah. Bukan. Saya bukan jumawa. Saya hanya berusaha. Setidaknya sudah mencoba.
Saat ini mungkin hanya ada dua jenis manusia yang kau ketahui. Penggerak atau yang digerakkan, yang diikuti atau yang mengikuti. Tapi ada pilihan ketiga menurut saya. Tipe yang spesiesnya sangat langka. Pribadi bebas. Pribadi bebas yang hanya mampir di planet ini, dunia ini. Pribadi bebas yang tidak merasa menjadi warga negara bumi. Pribadi bebas paham akan aturan manusia yang sangat kurang manusia. Pribadi bebas yang jauh dari topeng, topeng, topeng (Tidakkah kau hendak muntah ketika mendengar 'topeng'?). Rubah yang bisa saja berbulu domba (karena ia anak saudagar kaya). Tapi jaman sekarang cicak bisa saja gorila. Yang menempel di dinding, berusaha tak ada, berusaha suci, tanpa masalah tapi setiap inci kau mendengar peristaltik di lehernya setiap mili itu mengalir maka nama baikmu akan berakhir. Musuh dalam selimut. Cicak dalam selimut.
Dalam masalah mu sebenarnya ia terlarut.
Dalam sampingmu ia mengikut.
Dalam padamu ia menghasut. (Aku terbunuh)
Mari Saya ceritakan mengenai teman Saya, Cicak.
Mengenaai ia, cicak tau (dulu )saya diam dengan masalah. Saya kenal Cicak sebagai kawan dekat dan saya tak masalah karena ia pun tak masalah. Dulu saya diam, masalah mendekati Saya diam. Sejak dengan Cicak (dan masalah yang datang), ia suruh saya melahap masalah itu seperti nyamuk. hap, hap, hap habiskan, "Cari masala lagi, dan selesaikan, disitulah pengalaman dan perutmu akan kenyang" Saya menurut saja. ternyata enak juga mencari, menemukan, membuat, menyelesaikan, melahap tanpa memuntahkan masalah (tapi ingat wajahnya sekarang saya ingin muntah)
Kepada Cicak Saya belajar banyak. Bagaimana cara menghadapi nyamuk -eh, masalah- besar dan menghabiskannya sendirian. Kepada Saya Cicak berkata, Saya hebat dan dia berteman dengan saya. Saya kenal Cicak sebagai kawan dekat dan Saya tak masalah karena ia pun tak masalah. Tapi yang tidak saya tahu ternyata Cicak berliur, sembari berliur ia bertelur. Ketika bertelur Saya baru sadar tubuhnya transparan. Jelas terlihat jantung yang pekat, busuk. Kaki tangannya berlubang bayak meempeli tubuhmu menyedot bagai parasit. Baru Saya tahu telur yang ia rendam selama ini dalam rahimnya membuat Saya terpeleset. Telur itu telur Saya. Telur yang terbuahi oleh Saya. Saya Tokek (Saya merasa jadi Tokek) dan Saya menidurinya dibalik selimut. Cicak dalam selimut. Saya Tokek. Masalah datang kepada aya dan Saya belum menyelesaikannnya.

Ini blog tentang apa ?
BalasHapusDiary kamu kah ?
tentang apa saja, yang terlintas di kepala.
Hapus