20141029

Namanya Rani, Maharani

Namanya Rani, Maharani. Sudah tiga bulan ini berganti nama jadi Natasha. Sudah tiga bulan ini ia berganti kaca mata. Pandangannya bukan lagi hamparan sawah di kampung, pak tani dan bu tani giat bekerja. Bukan. Bukan itu juga. Dulu, tiga bulan lalu ia tinggal di sudut gang Boneka. Mereka menyebutnya begitu karena dulu, katanya perempuan Belanda bernama Boneka merajai gang panjang ini. Menambatkan lampu remang-remang berisi perempuan ranum sampai yang sudah busuk sekalipun. Rani lahir, tinggal dan tumbuh dalam celah sempit di salah satu bilik dalam gang (bukan desa hujau dengan sawah). Rani juga punya ibu, namun ibunya mati kena virus katanya. Beberapa hari setelah ia menghirup udara busuk gang. Rani hanya sebatas tahu, ibunya berasal dari Kediri. Dan ia sebatas tahu, namanya, Maharani diambil dari nama gua yang berada di kota kecil itu. Perihal Bapak, Rani tidak tahu. Dan dalam kamus warga gang Boneka, jangan bertanya siapa punya bapak siapa. Karena hal itu sama mustahilnya dengan apa yang paling mustahil di dunia. Entah apa. Dan kisah Rani? Setelah ditinggal ibu yang ada dan tidak ada, ia tinggal bersama tante. Cabang-cabang dari salah satu akar kaki dari ujung ranting tante Boneka, tante adalah salah satunya. Tidak ada yang tahu pasti berapa usia tante. Bedak dan gincu bergambar Grace Kelly, yang selalu tebal membuat ia terlihat lebih muda beberapa hari. Yang jelas, katanya sebelum ibu mati, ia menitipkan Rani. Entah bagaimana pun ceritanya, Rani hidup tak hidup sampai usia sebelas ini. Ya, minggu depan Rani berusia sebelas. Namun Rani berencana tidak akan ada minggu depan.
Tiga bulan lalu. Kejadiannya begitu cepat. Tante yang tua dan berbau busuk tiba-tiba mengemasi kopor-kopor. Katanya setelah sekian lama gang Boneka akan di hapus eksistensinya sebagai kutu kota. Oleh karena itu, tante berkemas. Oleh karena itu, semua orang di gang berkemas. Rani tudak berkemas. Selain tidak punya kopor untuk berkemas, ia tidak punya apa-apa untuk dikemasi. Rani hanya jongkok, memegangi perut. Ia sedang datang bulan. Tetiba, saat pagi buta dan suhu gang belum tinggi. Tante kedatangan tamu dalam bilik, dua orang pria. Pemandangan biasa bagi Rani. Biasanya jika tante kedatangan tamu, Rani akan keluar bilik dan kembali beberapa jam kemudian. Namun pagi itu lain, sebuah pagi yang tetasa lebih cepat dari biasanya. Salah satu pria membawa kopor kecil salah satunya bercakap dengan tante. Pria berkopor menyerahkan amplop sedang berisi uang pada tante (Rani mengintip sedikit, isinya lembaran uang biru). Setelah itu Rani disuruh mandi, pakaian kumal Rani berganti baju tante yang kecil. Bedak dan gincu Grace Kelly andalan tante terpoles pada wajah Rani. Baju bekas tante dan selop baru beli di pasar adalah hadiah pertama dari tante untuk Rani. Ternyata itu sekaligus hadiah perpisahan.
Sesudahnya, Rani bermobil bersama dua pria berkopor dan temannya. Sesudahnya, Rani tiba di bandara seperi terbaca di depan gedungnya.  Sesudahnya, Rani diterbangkan ke negeri Cina seperti tertera di paspornya. Tunggu, yang terbang saat itu bukan Rani, tapi Natasha. Ia sudah berganti nama. Sesudahnya, tiba-tiba saja Rani, bukan, Natasha tinggal dalam flat sempit dan pengap bersama pria bernama Nguyen. Pria obesitas dengan kacamata yang selalu bermuka seram ketika memanggil namanya. Pria yang tidak mengijinkan sekalipun Natasha keluar flat. Pria yang pada setiap malam selalu menindih Natasha dan memukulinya jika ia menangis. Pria yang selalu mengeluarkan liur berbau amis sama seperti tante dan semua oranf di gang Boneka. Ya, gang Boneka dan flat ini kurang lebih sama. Mungkin disini selain ia berganti nama, selakangan yang berdenyut, lebam di sekujut tubuh, semuanya sama. Pengap yang gatal dan busuk. Bau yang membuatmu tidak berarti. Sakit yang tahu apakah sempat untuk merasa sakit. Rani, atau Natasha lahir dalam gang busuk dan pengap sejah pandangan mata. Dan mungkin ia sudah ditakdirkan mati di tempat yang serupa. Usianya sebelas, minggu depan. Dan Rani, atau Natasha ingin sempat menghirup udara sawah dengan pemandangan pak tani dan bu tani.
Tiga hari kemudian tersiar kabar bahwa pada flat tempat tinggal Rani, atau Natasha tercium bau busuk. Bukan busuk lendir liur seperti biasanya, tapi bau anyir karena mayat pria itu dan Rani, atau Natasha. Pisau dapur tertancap di perut pria yang berlumur darah dan tanpa busana. Di dekatnya terbujur kaku jasad gadis kecil-juga tanpa busana-memar di sekujur tubuh. Darah segar mengering diantara dua kaki.
Saat itu, yang tetbujur kaku adalah Natasha. Sedangkan Rani? Sukmanya sudah terbang ke belahan dunia lain. Menuju hamparan sawah di Kediri. Pada pagi buta ia duduk di pematang sawah, menghirup udara segar dan memandang pak tani juga bu tani dari kejauhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar