Selamat pagi, Pelawi. Dengan menyapanya saja sudah membuatku begidik. Padahal hanya sekadar menyapa dalam hati. Cupu ya? Culun punya mereka kata. Aku yang hidup dalam dimensi berbeda hanya mampu mengernyitkan dahi. Sebagian dari mereka yang merupakan sebagian dari darah dagingku juga menganggap apa yang aku lakukan kuno. Mereka bilang aku harusnya tidak banyak bertingkah dan duduk duam saja minum teh. Apa salahnya?
Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Saat Pelawi datang kerumah-menyebut namanya membuatku merinding, bahkan dalam usia ini-membawakan bunga dan buku karya Pram. Terkenang secara monokrom kisah cinta pada masa itu terkesan datar saja dan patuh terhadap segala aturan. Bukan seperti saat ini. Dimana cinta yang murni justru menjadi alasan untuk mematahkan segala aturan. Bagiku yang selalu ingin belia lagi dan dicintai, bukankah cinta yang murni tidak pernah bersifat penghancur? Bukankan kerelaan adalah bagian dari kemurnian itu sendiri? Mata tua ini selalu yakin bahwa pengorbanan dan kerelaan merupakan cinta yang murni. Bahagia rasanya mengenang kerelaan yang ku korbankan. Bahagia rasanya memilih rela untuk melepas Pelawi dan akhirnya dia bisa menjadi seperti sekarang ini. Andai. Jika saja aku memilih Pelawi pada saat itu, aku tidak akan bisa seperi ini. Duduk merenda di depan tv dengan suami disamping, menikmati gaji pensiun dan tersenyum pada hari-hari. Pelawi pernah berkata,"Hidup bersamaku memang keras, Ti. Namun aku akan memberimu segalanya milikku, terlebih cinta. Ikutlah denganku dan bersabarlah". Saat itu usiaku 17 tahun dan aku sudah di tunangkan oleh Bapak dengan Mas. "Maaf. Aku tidak berani melawan kehendak Bapak", itu saja yang kuucapkan dengan berlari. Sore itu pertemuan terakhirku dengan Pelawi.
---
Aku mendengarkan curahan hati cucuku yang sekarang berusia 17 tahun. Beberapa bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya setelah berpacaran hampir dua tahun.
Cucuku bilang, ia yang memilih untuk putus dengan alasan yang susah dijelaskan katanya. Dan beberapa minggu terakhir, saat melihat mantan pacarnya telah berbahagia dengan gadis lain ia merasa terluka sekaligus menyesal."Aku tahu keputusanku benar, Oma. Aku patuh kepada Mama untuk memutuskan hubungan kita. Oma tahu kan kalau kita beda agama?" Glek. Terkutuklah batas-batas yang memisahkan cinta."Oma tahu kan yang bikin Mama nggak suka dengan Kris itu bukan hanya karena beda agama? Karena Kris itu cina dan Engkong nya punya kelab malam. Sadra tahu dan sandra rela putus demi menurut Mama, tapi melihat Kris dengan cewek lain rasanya nggak rela". Kudengarkan saja isi hati cucuku itu. Aku melihatnya sekarang seperti melihat diriku di masa lalu. Bahkan perasaan menyesal itu awet hingga saat ini. Mungkin terlalu lucu jika seorang Oma masih merasa cemburu dan tidak rela mantan kekasihnya dimiliki orang lain. Namun itulah yang terjadi. Pelawi yang dulu miskin sekarang telah menjadi pemilik penerbitan ternama di Jakarta. Ia telah berbahagia dengan Surti, teman sebangku ku di sekolah rakyat dulu sekaligus teman sekelas Pelawi. Mungkin sangat memalukan jika aku yang tua ini menginginkan tempat Surti. Bagaimana cemburu itu masih mengakar. Naif dan....jujur aku masih mencintai Pelawi. Tapi, dalam cinta yang murni menyeruak kerelaan. Tanpa kata-kata kupeluk cucuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar